Revitalisasi Budaya Sandang: Memperkuat Jalinan Industri Mode Berbasis Tradisi dan Warisan Keanekaragaman Hayati

Pada 19 Juli 2025 lalu, kami mendapat kehormatan untuk terlibat dalam penyelenggaraan seminar bertajuk Revitalisasi Budaya Sandang: Memperkuat Jalinan Industri Mode Berbasis Tradisi dan Warisan Keanekaragaman Hayati. Diselenggarakan di Gedung Pusat Universitas Gadjah Mada, seminar ini merupakan buah kolaborasi antara Yayasan Sekar Kawung, Dewan Guru Besar Universitas Gadjah Mada, dan Cipta Garis Temurun. Kami turut bergabung sejak tahap perancangan awal, penyusunan konsep maupun substansi, dan pelaksanaan jalannya diskusi agar seminar ini dapat menjadi ruang pertemuan lintas disiplin yang bermakna.


Sebelumnya, kegiatan FGD yang melibatkan para praktisi dan perajin juga menjadi salah satu basis kami dalam menggarap acara seminar ini. Dari FGD tersebut, kami menangkap satu benang merah yang mengikat semuanya: urgensi untuk meninjau kembali hubungan antara manusia, alam, dan budaya dalam praktik industri fesyen. Pertanyaan inilah yang kemudian menjadi titik tolak dari empat topik yang kami rumuskan bersama:

1. Membaca Sensibilitas Ekologis Praktik Fesyen di Indonesia

2. Merawat Kepekaan Bio-Kultur Praktik Lokal dan Tradisional

3. Menilik Arah Kebijakan Terhadap Fesyen, Alam, dan Budaya

4. Menata Gagasan Bio-Kultur Melalui Wujud Kolaborasi


Sebelum membahas dengan mendalam masing-masing topik di atas, seminar lebih dulu dibuka secara seremonial oleh Wakil Rektor UGM Dr. Danang Sri Hadmoko, S.Si., M.Sc. diikuti dengan sambutan pembuka oleh Prof. Dr. Muhammad Baiquni, M.A. selaku Ketua Dewan Guru Besar UGM dan Ibu Chandra Kirana Prijosusilo dari Yayasan Sekar Kawung. Menurut mereka, acara seminar ini dapat menjadi momentum berharga yang dapat mempertemukan berbagai pihak dari latar khazanah kebudayaan berbeda. Mereka menekankan bahwa Sandang, yang merupakan bagian dari kebudayaan Indonesia, adalah wujud dari proses interaksi manusia dengan kekayaan alam yang harus terus dikembangkan agar mampu menjadi identitas kultural serta kekuatan bangsa. Mereka juga mengingatkan pentingnya jalinan sinergi serta kolaborasi dalam industri mode Indonesia yang dapat mempertemukan kalangan perajin, akademisi, pemerintah, dan masyarakat luas. Dengan begitu, mereka berharap bila seminar ini dapat bertransformasi menjadi ruang produktif yang menghasilkan gagasan-gagasan berdampak bagi masyarakat luas. Setelah pembukaan, acara seminar pun berjalan dengan mengangkat topik tertentu dalam masing-masing sesi melalui pemaparan dari para pembicara, diskusi interaktif, hingga perumusan inovasi maupun ide kebijakan dapat berdampak luas bagi industri mode kita.

Topik I: Membaca Sensibilitas Ekologis Praktik Fesyen di Indonesia

Pembahasan topik pertama ini dimoderatori oleh Danya Adhalia selaku pendiri Cipta Garis Temurun, dengan mengundang dua pelaku kreatif yang selama bertahun-tahun telah menjadikan wastra dan tradisi sebagai bagian integral dari narasi maupun praktik-praktik produksi yang dilakukan di balik hasil karya mereka: Lila Imeldasari (Lemari Lila) dan juga Anthok Kalarie (Prajan Eco).


Lila memulai dengan membagikan kisahnya yang dekat dengan kebaya, warisan yang ia terima dari ibu dan neneknya. Koleksi dari Lemari Lila tidak hanya berpijak pada estetika, tapi juga pada perenungan personal dan nilai budaya yang menyertainya. “Koleksi saya keluar satu tahun sekali, dan biasanya berdasarkan peristiwa dalam hidup saya,” ungkapnya. Hal ini tercermin dalam koleksi Mulih yang ia gagas bersama Ibu Chandra Kirana Prijosusilo dari Yayasan Sekar Kawung, sebagai ajakan untuk kembali pulang—secara literal maupun batiniah—menuju akar budaya.


Sementara itu, Anthok Kalarie membagikan pendekatan kontemporer yang diusung oleh Prajan Eco, sebuah jenama dengan fokus penggunaan teknik ecoprint dan bahan-bahan alami yang merupakan bagian dari Prajan Atelier. Melalui eksplorasi bahan pewarna alami dari limbah, daun, dan tumbuhan, mereka menciptakan karya yang tidak hanya indah, melainkan juga tahan lama. “Kami membuat desain yang timeless, agar satu pakaian bisa digunakan dalam banyak suasana dan dalam waktu lama,” katanya.


Diskusi kemudian berkembang pada tantangan produksi berkelanjutan—dari risiko kerugian finansial akibat kegagalan pewarnaan hingga kebutuhan untuk mendidik produsen dan konsumen akan pentingnya perawatan kain. Sesi ini ditutup dengan menggarisbawahi pentingnya komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat dari hulu ke hilir. Perjalanan sehelai kain seharusnya tidak berhenti pada penjualan, tapi juga membawa cerita, nilai, dan tanggung jawab.


Topik II: Merawat Kepekaan Bio-Kultur Praktik Lokal dan Tradisional

Dalam sesi ini, Prof. Dr. Ir. Edia Rahayuningsih, M.S., IPU dari Indonesia Natural Dye Institute (INDI-UGM) membawa pemaparan komprehensif tentang potensi dan urgensi pewarna alami di Indonesia. Dengan data yang akurat dan penuh semangat, beliau menjelaskan bahwa pewarna sintetis tidak hanya berbahaya bagi lingkungan, tetapi juga telah terbukti bersifat karsinogen.


Sebaliknya, menurutnya pewarna alami bukan sekadar alternatif: ia adalah bagian dari warisan budaya Indonesia yang terancam punah jika tidak dirawat dan dikembangkan dengan pendekatan ilmiah, teknologi, dan partisipasi komunitas. Melalui inisiatif seperti GamaWarni dan kerja sama dengan UNESCO Chair, Prof. Edia memperjuangkan pewarna alami sebagai gerakan transformatif: dari riset, edukasi, hingga hilirisasi produk.


Dina Faisal dari Yayasan Andi & Dina dan Bidadariku melanjutkan sesi kedua dengan membawa suara dari Lombok. Ia menceritakan praktik bio-kultural masyarakat Sasak yang menenun kain kafan dengan penuh kesadaran ekologis dan spiritual. "Kain ini ditanam, dipintal, ditenun, dan kelak akan dikembalikan ke tanah," katanya. Tradisi ini bukan hanya bentuk produksi, tapi juga perwujudan nilai hidup dan kematian. Warna merah tradisi maje, misalnya, melibatkan 19 jenis tanaman, menyimpan keanekaragaman hayati yang kaya namun sering luput dari narasi industri mode mainstream.


Topik III: Menilik Arah Kebijakan terhadap Fesyen, Alam, dan Budaya

Diskusi pada sesi ketiga membuka perbincangan ke arah yang lebih sistemik. Diisi oleh  Yuke Sri Rahayu dari Kemenkraf dan Prof. Ir. Wiendu Nuryanti, M.Arch., Ph.D., sesi ini berbicara tentang: Bagaimana arah kebijakan saat ini mampu memberi ruang bagi praktik mode berbasis tradisi dan keanekaragaman hayati? Apakah regulasi yang ada sudah cukup akomodatif terhadap praktik kecil yang bekerja secara lokal, tetapi memiliki dampak ekologis dan kultural yang besar?


Para pembicara dan peserta membahas perlunya kebijakan yang tidak hanya bersifat teknokratis, tetapi juga memiliki sensitivitas budaya dan keberpihakan pada perajin kecil. Konsep bio-kultur tidak bisa dirangkai dalam pendekatan industri semata. Ia membutuhkan ekosistem kolaboratif yang mendengarkan pengetahuan lokal, memberi ruang untuk regenerasi, dan menempatkan keberlanjutan sebagai orientasi utama.


Topik IV: Menata Gagasan Bio-Kultur melalui Wujud Kolaborasi

Sesi keempat yang juga menjadi sesi penutup dalam seminar ini mengarahkan topik seminar ke pembahasan kolaboratif. Satya Brahmantya dan Ukke Kosasih mengisi sesi ini dengan memaparkan pemaknaan mereka akan wujud kolaborasi selama berkarya. 


Satya yang telah lama berkarya di bidang desain khususnya perabotan mengangkat persoalan rantai pasok lokal. Menurutnya, kolaborasi bisa diwujudkan melalui jalinan kerja sama dengan para perajin lokal yang turut memanfaatkan material lokal di sekitarnya. Kesadaran ekologis yang dimiliki Satya menuntut dirinya untuk menggunakan material-material bekas (seperti kayu bekas) maupun material alam yang mudah dan cepat tumbuh. Satya juga menekankan bahwa nilai sustainability sebenarnya sudah tertanam dalam kebudayaan Indonesia sejak dulu sebab masyarakat lokal setempat telah terbiasa memanfaatkan sekaligus merawat keberlanjutan alam sekitar mereka. Namun, hal ini sering terpinggirkan oleh tren go green yang dibawa dari paradigma Barat. 


Sementara itu, Ukke Kosasih menceritakan tentang bagaimana proses berkaryanya lahir dari rasa kegelisahan. Ia merasa bahwa kesadaran terhadap asal-usul sandang yang kita kenakan saban harinya masih belum hadir di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Circa Handmade yang digarap Ukke kemudian berkolaborasi bersama Yayasan Sekar Kawung untuk memproduksi boneka ASIH (yang diambil dari kata kasih). Boneka ASIH hadir sebagai medium komunikasi yang membahasakan dan menanamkan memori tentang budaya sandang kepada anak-anak. Melalui karya boneka ini, Ukke ingin menjadikan anak-anak sebagai ko-kreator untuk berkolaborasi dalam proses merawat dan memelihara sebuah benda yang bernilai—dan, lebih jauhnya, tentang proses pelestarian budaya sandang itu sendiri.


Penutup: Dari Diskusi Menuju Gerakan

Gagasan-gagasan yang muncul dari ruang seminar ini selanjutkan akan terus dijalankan melalui berbagai upaya tindak lanjut: dari kolaborasi lintas sektor, penyusunan rekomendasi kebijakan, hingga advokasi pelestarian tradisi. Seminar ini menunjukkan bagaimana proses untuk merawat tradisi lokal maupun warisan keanekaragaman hayati sudah seharusnya beralih dari pergerakan individual menuju ruang-ruang komunal, sehingga jalinan industri mode di Indonesia mampu bergerak menuju masa depan yang lebih lestari.


Penulis: Rafi Syabi Aferza

Editor: Danya Adhalia